Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar merupakan salah satu wilayah dengan potensi peternakan dan pertanian yang cukup besar. Namun, salah satu permasalahan yang muncul adalah limbah dari jerami yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kebanyakan petani berakhir dengan membakar jerami tersebut tanpa melakukan pengolahan terlebih dahulu sehingga menyebabkan beberapa dampak bagi masyarakat seperti polusi udara dan limbah sisa dari pembakaran jerami tersebut. Salah satu pengolahan yang dapat dilakukan pada jerami tersebut adalah pembuatan silase dari jerami padi.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Periode I Universitas Andalas di Nagari Limo Kaum, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, telah melakukan pembuatan silase sebagai upaya pengurangan limbah jerami dan pengoptimalan nutrisi bagi ternak. Silase merupakan pakan ternak yang diawetkan melalui proses fermentasi anaerob (tanpa udara) sehingga dapat disimpan dalam waktu lama dan tetap bernilai gizi. Selain mampu mengurangi limbah pertanian, silase juga dapat meningkatkan nilai gizi jerami dan membantu peternak dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak, khususnya pada musim kemarau.
Pembuatan silase dapat memberikan beberapa manfaat, contohnya dapat meningkatkan nilai gizi jerami karena proses fermentasi membuat jerami lebih mudah dicerna sapi, meningkatkan produktivitas ternak, baik dalam pertambahan bobot badan maupun kesehatan sapi, dan menghemat biaya pakan karena bahan baku mudah didapat di sekitar Limo Kaum.
Alat pembuatan jerami yaitu drum biru 150 liter, penutup kedap udara seperti plastik dan karet pengikat, alat pencacah, ember, tongkat pengaduk, sedangkan untuk bahan yaitu ada jerami padi kering 25 kilogram, hijauan 25 kilogram, molases atau tetes tebu 1,5 kilogram tetapi molases ini bisa diganti dengan gula merah, dedak 3 kilogram, serta air bersih sekitar 20 liter.

Ada beberapa tahapan dalam pembuatan silase jerami, pertama siapkan jerami lalu jerami dicacah sepanjang 3–5 cm agar mudah dipadatkan dan difermentasi, setelah itu buat larutan fermentasi dengan cara mencampurkan molases dengan air, setelah itu jerami dicacah lalu dicampur dengan dedak secara merata, setelah semua tercampur secara merata maka masukkan jerami ke dalam drum 150 liter kemudian dipadatkan agar tidak ada udara yang terperangkap sambil sesekali disiram dengan larutan molases hingga lembap (tidak terlalu basah). Setelah semua selesai, wadah ditutup rapat dan disimpan di tempat teduh. Proses fermentasi ini membutuhkan waktu minimal 21 hari sebelum diberikan kepada ternak.
Pembuatan silase dari jerami merupakan teknologi sederhana, murah, dan mudah diterapkan oleh peternak sapi di Limo Kaum. Dengan kegiatan ini, jerami padi yang selama ini dianggap limbah dapat menjadi pakan alternatif bernilai tinggi dan mendukung keberlanjutan usaha peternakan sapi di daerah Limo Kaum.
Melalui kegiatan inilah peternak sapi di Nagari Limo Kaum diharapkan mampu memanfaatkan jerami padi pasca panen secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada pakan hijauan segar, dan meningkatkan kesejahteraan peternak melalui efisiensi biaya pakan. Kegiatan ini juga dapat dikembangkan melalui kelompok tani–ternak, sehingga proses pembuatan silase dilakukan secara gotong royong dan berkelanjutan.
