Lamang Tapai Limo Kaum sebagai Nilai Budaya Minangkabau: Perspektif Mahasiswa KKN Universitas Andalas Periode I 2026

Lamang tapai merupakan salah satu kuliner tradisional Minangkabau yang sangat identik dengan Kabupaten Tanah Datar, khususnya kawasan Batusangkar dan Nagari Limo Kaum. Makanan ini biasanya ada pada momen-momen keagamaan dan adat seperti Ramadhan, Idulfitri, Iduladha, Maulid Nabi, peringatan wafat, hingga baralek atau pesta pernikahan. Dalam kajian budaya yang merujuk pada jurnal “Lamang Tapai: Makanan Melayu Kuno dalam Tradisi Minangkabau” (2019), lamang diposisikan sebagai makanan yang kehadirannya bersifat wajib pada waktu-waktu tertentu, sehingga berfungsi sebagai penanda dalam kalender budaya Minangkabau.

Secara umum, lamang dibuat dari beras ketan yang dimasak di dalam bambu, sedangkan tapai merupakan hasil fermentasi ketan menggunakan ragi dan fermentasi tersebut tergantung cuaca dan udara. Keduanya menjadi simbol satu kesatuan untuk menciptakan rasa yang nikmat. Di Limo Kaum, kombinasi lamang dan tapai tidak hanya dikenal sebagai ikon kuliner lokal, tetapi juga sebagai identitas budaya yang merepresentasikan hubungan antara adat dan agama, sebagaimana prinsip Minangkabau “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.” Oleh karena itu, memahami lamang tapai berarti membaca nilai-nilai sosial, religius, dan filosofis yang hidup dalam masyarakat Minangkabau. Beberapa tulisan etnografis dan sejarah lokal mengaitkan asal-usul tradisi memasak ketan dalam bambu dengan peran Syekh Burhanuddin, ulama besar Minangkabau, yang memperkenalkan teknik ini sebagai bagian dari dakwah Islam (Navis, 1984; Amir, 2011). 

Tradisi malamang, yaitu kegiatan memasak lamang secara bersama-sama menjelang perayaan keagamaan dan adat.[MR1] Tradisi malamang mencerminkan nilai gotong royong dan solidaritas sosial. Prosesnya di mulai dari pemilihan bambu, persiapan beras ketan dan santan, hingga pengaturan api selama proses memasak. Nilai ini sejalan dengan petatah-petitih Minangkabau “barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang,” yang menegaskan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi pekerjaan dan tanggung jawab bersama. Di Nagari Limo Kaum, setiap tahap pembuatan lamang mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan tanggung jawab. Dengan demikian, sejarah malamang tidak hanya menjelaskan asal-usul makanan, tetapi juga perannya sebagai lambang pewarisan nilai sosial dan budaya.

Dalam simbolik budaya Minangkabau, lamang dan tapai sering dimaknai sebagai representasi relasi laki-laki dan perempuan yang saling melengkapi (Amir, 2011; Jurnal Lamang Tapai, 2019). Lamang yang padat dan cenderung netral melambangkan laki-laki, sedangkan tapai yang manis, lembut, dan beraroma khas melambangkan perempuan. Filosofi ini menegaskan bahwa perbedaan bukan sebagai konflik, melainkan sebagai keharmonisan.
Ada petatah-petitih yang berbunyi “ka nan barek samo dipikua, ka nan ringan samo dijinjiang,” hal ini seperti sebuah rumah tangga yang menekankan pembagian peran dan tanggung jawab secara seimbang. Lamang tanpa tapai dianggap tidak lengkap, sebagaimana kehidupan rumah tangga tidak dapat berjalan harmonis tanpa kerja sama antara suami dan istri.

Perbedaan warna antara lamang (putih) dan tapai (hitam) juga mengandung makna filosofis. Hitam dan putih melambangkan perbedaan pandangan dan karakter, tetapi ketika disatukan justru menghasilkan cita rasa yang seimbang. Hal ini sejalan dengan falsafah “bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakaik,” hal ini yang berarti bahwa sebuah kesatuan dapat dicapai melalui musyawarah dan dapat menerima sebuah perbedaan.  

Lamang tapai limo kaum mengandung beberapa nilai yaitu nilai pedagogis atau nilai Pendidikan dan pembelajaran serta nilai adat-agama. Misalnya, bambu tidak boleh dilangkahi karena dipercaya dapat menyebabkan lamang tajulua. Selain itu, dalam pembuatan tapai, orang yang mencampurkan ragi dianjurkan berada dalam kondisi suci. Praktik ini mencerminkan integrasi antara adat dan agama, sebagaimana prinsip “syarak mangato, adat mamakai.”

Nilai pendidikan dan budaya sejalan dengan petatah petitih “alam takambang jadi guru” sehingga pantangan-pantangan tersebut berfungsi sebagai sarana untuk menanamkan nilai disiplin, kehati-hatian, dan kebersihan dalam setiap aktivitas kehidupan manusia.

Dalam Minangkabau, lamang tapai berfungsi sebagai simbol komunikasi dalam keluarga. Menantu perempuan yang membawa lamang tapai ke rumah mertua tidak hanya membawa makanan, tetapi juga sebagai symbol tentang kondisi rumah tangganya. Lamang yang utuh dan elok bermakna rumah tangga yang rukun, sejalan dengan prinsip “nan elok dek awak, katuju dek urang.”

Lamang Tapai Limo Kaum menjadi simbol identitas budaya yang memperkuat rasa kebersamaan masyarakat. Lamang tapai berfungsi sebagai karakteristik unik suatu daerah sekaligus medium diplomasi budaya untuk memperkenalkan nilai-nilai Minangkabau kepada masyarakat luar.

Lamang Tapai Limo Kaum merupakan representasi kompleks dari kebudayaan Minangkabau yang menggabungkan aspek kuliner, adat, agama, dan relasi sosial. Proses pembuatannya merefleksikan nilai kesabaran, kebersamaan, dan disiplin; simbolismenya mencerminkan pandangan tentang harmoni dan keseimbangan dalam kehidupan; sementara fungsinya memperkuat identitas dan komunikasi sosial. Dengan demikian, lamang tapai bukan sekadar makanan tradisional, melainkan medium penting pewarisan nilai budaya yang terus hidup dalam masyarakat Minangkabau.

Video Proses Pembuatan dan Penjelasan Filosofi Lamang Tapai Limo Kaum, Tanah Datar

https://www.instagram.com/reel/DUU99o_EQXr/?utm_source=ig_web_copy_link

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *